Categories
Kesehatan

Pengalaman Memulai Hidup Sehat dengan Keto Life Style

Halo teman-teman! Ketika artikel ini saya tulis, saya masih belum memiliki kondisi badan yang ideal, namun saya sudah memulai sekitar 7 hari sebuah gaya hidup baru.

Saya tergerak untuk kembali hidup sehat setelah dokter meminta saya meminum obat terus-menerus seumur hidup karena sebuah gejala yang disebut hiper-agregasi trombosit; sebuah kondisi trombosit yang lebih cepat mengental. Penyebabnya apa, wallahu ‘alam. Tapi supaya tidak terjadi terus, maka saya harus meminum obat tertentu yang konon kabarnya seumur hidup.

Karena hal ini, akhirnya saya tiba pada satu kesimpulan: gaya hidup saya sudah tidak sehat. Beberapa gaya hidup sehat yang saya jalani:

  • Begadang
  • Makan sembarangan
  • Jarang berolahraga

Kalau Anda sering melakukan 3 hal diatas juga, berarti gaya hidup kita pernah sama hehehe..

Oke, gaya hidup apa mas kalo boleh tau?

Ada 2 hal yang saya jalani:

  • Low carbohydrate diet atau biasa dikenal dengan nama ketogenic diet
  • Intermittent Fasting atau dikenal juga dengan nama puasa

Inti dari ketogenic diet adalah mengurangi asupan karbohidrat sampai 5% dalam komposisi makanan kita. Lalu yang 95% isinya adalah protein dan lemak. Btw banyak orang nggak terima kalau keto (kependekan dari ketogenic) disebut diet, karena lebih kepada gaya hidup.

Sedangkan intermittent fasting (IF) adalah puasa dengan frekuensi tertentu, buka tutup berdasarkan jendela makan. Misal disebutkan IF 16:8 maka artinya 16 jam berpuasa, 8 jam jendela makan. Cara berpuasa yang paling umum juga bukan seperti puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan dikenal dengan istilah dry fasting kalau dalam dunia kesehatan. Betul-betul tidak makan dan minum. Sedangkan IF, lebih ke water fasting, yaitu tidak makan saja, tapi minum air masih boleh. Tentunya air yang tanpa kalori, seperti air putih, atau teh tanpa gula. Saya sekarang menerapkan pola 16:8 yang dimulai dari jam 16.00 hingga 08.00, yang artinya saya boleh makan dari jam 8 pagi, hingga jam 4 sore. Selebihnya, puasa.

Kenapa pilih 2 gaya hidup ini mas?

Pertama, saya obesitas. BMI saya saat tulisan ini dibuat adalah 29,1 yang mana dikategorikan sebagai obesitas level 1.

Obesitas artinya kelebihan lemak yang disimpan dalam tubuh. Dari mana asalnya lemak? Dari konsumsi karbohidrat dan gula secara berlebihan, yang kemudian diproses oleh insulin hingga menjadi lemak. Kok bisa kelebihan mas, emang selama ini makan apa aja? Nasi, mie goreng, mie rebus, roti, & minuman manis dalam kotak atau botol dalam jumlah berlebihan. Mostly yang ini aja yang saya makan dan minum.

Karena selama ini sudah berlebihan, maka sekarang tubuh saya harus diservis secara total. Sampai ke akar-akarnya. Caranya dengan menguras lemak yang tersimpan dulu dalam tubuh. Yang paling efisien ya cuma low carbohydrate lifestyle. Biarkan tubuh akhirnya mengkonsumsi lemak yang sudah disimpan.

Kedua, ini paling sederhana. Saya tinggal berpuasa. Lalu makan karbohidrat dalam jumlah sedikit. Selesai.

Sebagai referensi tentang apa itu ketogenic diet, Anda bisa menonton ini (dalam bahasa inggris):

Tantangannya apa kalo gitu?

Yang paling sulit adalah mengganti pola makan. Biasa makan mie goreng, nasi goreng, lalu tiba-tiba nggak makan, wah sulit banget. Dari situ saya sadar bahwa selama ini definisi makan saya adalah makan karbo. Jadi begitu karbo hilang, saya kelimpungan. Saya kelimpungan sekaligus senang. Artinya saya mulai merambah makanan yang lain.

Pilihannya adalah makan lauk. Dulu biasa makan nasi lauknya ayam, maka sekarang ya makan ayam. Tantangan terbesar disini adalah, jika saya makan terlalu banyak protein maka yang terbebani adalah liver. Anda bisa baca disini mengenai referensinya.

Cara mengatasinya, yang saya lakukan adalah dengan selalu mengkombinasikan protein dengan sayuran hijau. Semakin banyak kita makan sayuran hijau, akan semakin sehat kita. Toh sayuran hijau bisa kita dapatkan dimana saja, kan? Apalagi di Indonesia. Waktu saya punya kebiasaan clean-eating sekitar 5 tahun silam, cukup mudah kok mencari sayuran.

Walaupun dikatakan bahwa komposisi makanan adalah 5% carbs, 70% fat, 25% protein, pada kenyataannya waktu saya tiba di piring makan, isinya adalah 50% sayur, 40% ayam goreng, 10% VCO. Karena di dalam ayam goreng sendiri udah ada protein dan lemak. Bahkan di beberapa bahan makanan lain seperti kacang-kacangan, sudah mengandung lemak tinggi.

Apakah semua orang bisa mencobanya mas?

Saran saya, silakan. Tapi kalau bisa Anda baca-baca dulu referensi yang benar. Kalau saya sih, mengikuti Youtube nya dr Eric Berg. Silakan subscribe saja channelnya. Beliau menjalani healthy keto diet sejak lama, dan juga suka mengajar tentang gaya hidup sehat. Cukup authority dan sering diundang sebagai pemateri kesehatan di berbagai forum di USA. Kekurangannya, pada saat menyarankan makanan, kebanyakan nggak lazim di Indonesia. Jadi Anda harus tetap menyimak dan mengadaptasikan sendiri untuk lingkungan Indonesia.

Selamat mencoba!